UAS Analisis Regresi
Permasalahan
Kecelakaan lalu lintas merupakan suatu peristiwa pada lalu lintas jalan yang tidak diduga dan tidak diinginkan yang sulit diprediksi kapan dan dimana
terjadinya, sedikitnya melibatkan satu kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang menyebabkan cedera, trauma, kecacatan, kematian dan/atau
kerugian harta benda pada pemiliknya (korban). Terjadinya kecelakaan lalu lintas tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, faktor pengemudi,
faktor kondisi jalan, faktor kendaraan, pertambahan jumlah kendaraan bermotor, dan lain-lain.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka akan dicari hubungan antara jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi dengan faktor-faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap jumlah kecelakaan lalu lintas seperti faktor pengemudi, kondisi jalan, kendaraan, dan pertambahan jumlah kendaraan bermotor.
Berikut adalah data jumlah kecelakaan lalu lintas, penyebab kecelakaan, dan pertambahan jumlah kendaraan bermotor dari tahun 1984-2014.
Tabel 1. Tabel data jumlah kecelakaan lalu lintas, faktor penyebab kecelakaan, dan pertambahan jumlah kendaraaan bermotor di dari tahun 1984-2014.
Tahun
|
Jumlah Kecelakaan
Lalu Lintas (Kasus) |
Faktor
Kendaraan (Kasus) |
Faktor
Pengemudi (Orang) |
Faktor
Jalan (Kasus) |
Pertambahan jumlah
kendaraan bermotor (Unit) |
1984
|
1153
|
197
|
629
|
12
|
2070
|
1985
|
1218
|
198
|
920
|
8
|
9246
|
1986
|
1066
|
48
|
814
|
16
|
3740
|
1987
|
1339
|
56
|
1033
|
37
|
5590
|
1988
|
939
|
26
|
764
|
12
|
13604
|
1989
|
619
|
23
|
500
|
22
|
9683
|
1990
|
597
|
17
|
487
|
71
|
8025
|
1991
|
570
|
17
|
439
|
16
|
10863
|
1992
|
526
|
7
|
457
|
4
|
8190
|
1993
|
503
|
9
|
488
|
3
|
12136
|
1994
|
614
|
12
|
560
|
4
|
16163
|
1995
|
527
|
10
|
509
|
6
|
16361
|
1996
|
419
|
9
|
403
|
7
|
21927
|
1997
|
469
|
5
|
458
|
3
|
24189
|
1998
|
337
|
4
|
330
|
3
|
17471
|
1999
|
221
|
1
|
219
|
1
|
7172
|
2000
|
237
|
5
|
230
|
1
|
31667
|
2001
|
154
|
5
|
138
|
7
|
25581
|
2002
|
179
|
5
|
163
|
3
|
54025
|
2003
|
201
|
3
|
192
|
5
|
57634
|
2004
|
232
|
5
|
220
|
7
|
53844
|
2005
|
325
|
12
|
260
|
16
|
71560
|
2006
|
1263
|
18
|
1220
|
13
|
120055
|
2007
|
1343
|
18
|
1209
|
35
|
105730
|
2008
|
1021
|
18
|
927
|
24
|
129932
|
2009
|
848
|
24
|
738
|
15
|
134669
|
2010
|
1380
|
30
|
851
|
330
|
200302
|
2011
|
1604
|
254
|
1209
|
134
|
209827
|
2012
|
7638
|
3593
|
1876
|
2011
|
203200
|
2013
|
5301
|
2870
|
1394
|
545
|
173467
|
2014
|
5993
|
2612
|
1380
|
1479
|
154585
|
Penyajian Data
· Mean atau rata-rata faktor kendaraan dari tahun 1984-2014 adalah 326,16 atau 326 kasus dengan standar deviasi 909,656. Jumlah seluruh faktor kendaraan dari tahun 1984-2014 yaitu 10.111 kasus dengan faktor kendaraan tertinggi 3593 kasus pada tahun 2012 dan terendah 1 kasus pada tahun 1999.
· Mean atau rata-rata faktor pengemudi dari tahun 1984-2014 adalah 677,97 atau 678 orang dengan standar deviasi 435,641. Jumlah seluruh faktor pengemudi dari tahun 1984-2014 yaitu 21.017 orang dengan jumlah faktor pengemudi tertinggi 1876 orang pada tahun 2012 dan terendah 138 kasus pada tahun 2001.
· Mean atau rata-rata faktor jalan dari tahun 1984-2014 adalah 156,45 atau 156 kasus dengan standar deviasi 443,739. Jumlah seluruh faktor jalan dari tahun 1984-2014 yaitu 4.850 kasus dengan jumlah kecelakaaan lalu lintas tertinggi 2011 kasus pada tahun 2012 dan terendah 1 kasus pada tahun 1999 dan tahun 2000.
· Mean atau rata-rata pertambahan jumlah kendaraan bermotor dari tahun 1984-2014 adalah 6,17x104 atau sekitar 61700 unit dengan standar deviasi 68.489,829. Jumlah seluruh pertambahan jumlah kendaraan bermotor dari tahun 1984-2014 yaitu 1.912.508 unit dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor tertinggi 209.827 unit pada tahun 2011 dan terendah 2070 unit pada tahun 1984.
Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas di tertinggi terjadi pada tahun 2012 dengan jumlah kecelakaan lalu lintas sebesar 7638 kasus dan jumlah kecelakaan lalu lintas terendah yaitu pada tahun 2001 sebesar 154. Dari tahun 1990 sampai tahun 2005, jumlah kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan. Namu pada tahun 2006 mengalami kenaikan. Kenaikan tertinggi tarjadi dari tahun 2011 ke tahun 2012. Pada tahun 2013 mengalami penurunan, kemudian naik lagi di tahun 2014.
Pembahasan Masalah
Akan dilakukan analisis regresi untuk mengetahui seberapa jauh hubungan antara faktor kendaraan, faktor pengemudi, faktor jalan, dan pertambahan jumlah
kendaraan bermotor terhadap Jumlah kecelakaan lalu lintas, dengan variabel dependen adalah jumlah kendaraan lalu lintas, dan variabel independen adalah
faktor kendaraan, faktor pengemudi, faktor jalan, dan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Analisis ini merupakan analisis regresi berganda.Asumsi berdasarkan faktor kendaraan, faktor pengemudi, faktor jalan, dan pertambahan jumlah kendaraan bermotor terhadap jumlah kecelakaan lalu lintas yaitu
Jumlah kecelakaan lalu lintas : Y
Faktor kendaraan : X1
Faktor pengemudi : X2
Faktor jalan : X3
Pertambahan jumlah kendaraan bermotor : X4
Model regresi linier berganda berdasarkan asumsi-asumsi diatas adalah sebagai berikut :
Output SPSS 16.0 serta interpretasinya
Pemilihan Model Terbaik dengan Metode Backward
Penjelasan :
Untuk setiap penambahan 1 unit variabel bebas X1, maka akan terjadi penambahan untuk Y sebesar 1,151. Untuk setiap penambahan 1 unit variabel bebas X2, maka akan terjadi penambahan untuk Y sebesar 1,079. Untuk setiap penambahan 1 unit variabel bebas X3, maka akan terjadi penambahan untuk Y sebesar 0,831.
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah persyaratan yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasi Ordinary Least Square (OLS). Evaluasi ini di
maksudkan untuk mengetahui apakah penggunaan model regresi linier berganda dalam menganalisis telah memenuhi asumsi klasik. Ada empat pengujian asumsi
klasik yang akan di uji, yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
1. Uji Normalitas
Asumsi Normalitas dalam asumsi klasik ini adalah nilai residual yang di bentuk model regresi linier terdistribusi normal, bukan variabel bebas ataupun variabel terikatnya. Uji Normalitas digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki nilai residual yang berdistribusi normal.
Hasil uji normalitas pada gambar Normal P-P Plot di bawah ini.
Hasil uji Normalitas pada gambar grafik One-Sample Kolmogorov Smirnov di bawah ini.
2. Uji Heteroskedastisitas
Asumsi Heterokedastisitas adalah asumsi nilai residual dari model regresi yang memiliki varian tidak konstan. Pada pemeriksaan ini, diharapkan asumsi Heteroskedatisitas tidak terpenuhi karena model regresi linier berganda memiliki asumsi varian residual yang konstan (Homoskedastisitas). Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.
Ada beberapa metode pengujian yang bisa digunakan diantaranya yaitu dengan pendekatan scatterplots regresi, uji koefisien korelasi spearmen, dan beberapa uji lainnya.
a. Pendekatan pada scatterplots regresi
Metode ini yaitu dengan cara melihat grafik scatterplot antara standardized predicted value (ZPRED) dengan studentized residual (SRESID). Ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah di prediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi - Y sesungguhnya).
Hasil Uji Heterokedastisitas pada gambar grafik scatterplot di bawah ini.
Gambar 5. Uji Heterokedastisitas dengan Grafik Scatterplot
b. Uji Koefisien Korelasi Spearmen's rho
Metode uji heterokedastisitas dengan korelasi Spearmen's rho yaitu mengkorelasikan variabel bebas dengan nilai unstandardized residual. Pengujian menggunakan tingkat signifikansi 5% dengan uji 2 sisi. Apabila korelasi antara variabel independen dengan residual di dapat signifikansi lebih dari , maka tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi.
Hasil Uji Heterokedastisitas dengan Uji Korelasi Spearmen dibawah ini.
Gambar 6. Uji Heterokedastisitas dengan Uji Korelasi Spearmen
3. Uji Multikolinearitas
Asumsi Multikolinearitas adalah asumsi yang menunjukkan adanya hubungan linier yang kuat diantara beberapa variabel bebas dalam suatu model regresi linier berganda. Uji multikolinearitas digunakan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi (keterkaitan) yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda.
Salah satu cara untuk memeriksa terjadinya multikolinearitas adalah dengan pemeriksaan Variance Inflation Factor (VIF). Apabila nilai VIF lebih dari 10, maka terjadi multikoliearitas. Sebaliknya, apabila nilai VIF kurang dari 10, maka tidak terjadi multikolinearitas.
Sebagaimana terlihat pada tabel diatas, nilai VIF untuk semua variabel bebas kurang dari 10, maka tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas.
4. Uji Autokorelasi
Asumsi autokorelasi adalah asumsi residual yang memiliki kompenen/nilai yang berkorelasi berdasarkan waktu (urutan waktu) pada himpunan data itu sendiri.
Uji autokorelasi digunakan untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t-1). Ukuran dalam menentukan ada tidaknya masalah autokorelasi dengan uji Durbin-Watson (DW), dengan ketentuan sebagai berikut:
Jika DW lebih besar dari 2 atau lebih kecil dari -2, maka terjadi autokorelasi. Sebaliknya, jika DW berada diantara -2 dan 2 ( -2 < DW < 2 ), maka tidak terjadi autokorelasi.
Kesimpulan
Karena semua uji asumsi klasik terpenuhi, maka model regresi dengan metode Backward yaitu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar